Sabtu, 15 Mei 2010

Sansevieria Tampil Eksotis di Atas Batu

Andi Solviano Fajar kerap terlihat mendatangkan bongkahan batu bahan patung ke kebunnya. Pemain tanaman hias kawakan di Karanganyar, Jawa Tengah, itu beralih profesi? Tidak. Ia membutuhkan batu-batu itu untuk hunian lidah mertua.

Pada 1990-an Andi memanfaatkan batu-batu itu untuk kreasi bonsai dan suiseki. Lalu ketika adenium tren pada 2000-an ia juga menggunakan batu sebagai ornamennya. Kini giliran lidah mertua yang dipadukan dengan batu agar terlihat lebih cantik.

Saat Trubus bertandang ke kebunnya di Desa Krician, Kabupaten Karanganyar, tampak S. trifasciata 'bantel's sensation' berdiri anggun di tengah-tengah sebongkah batu berwarna cokelat muda berdiametar 15 cm. S. trifasciata hahnii 'jade' pun 'ditumbuhkan' di atas batu dan ditempatkan dalam pot keramik bermedia pasir malang dan arang sekam.
Calcedone

Batu dipilih Andi untuk media tumbuh sansevieria agar terlihat alami layaknya kebiasaan hidup beberapa jenis sansevieria yang epifit di batu atau batang tanaman. Kesan alami itu jauh lebih menonjol daripada ditanam dalam pot. Batu yang digunakan jenis calcedone. 'Itu jenis batuan alam dengan tingkat kekerasan 3-4 scalemol,' ungkap Bambang Tri Kusmandono Raharjo, pematung di Tulungagung yang sering memasok batu untuk Andi. Itu penting, karena jika tekstur batu terlalu keras sulit dilubangi. Terlalu rapuh pun tidak baik lantaran gampang pecah dan tak tahan lama.

Selain kekerasannya pas, calcedone juga dipilih lantaran corak dan warna abstraknya menawan. Pantas, jenis batuan itu biasa dipakai sebagai bahan patung, perhiasan, sampai furniture. Marmer dan onyx, dua varian calcedone yang banyak dijumpai di alam. Kusmandono menyebutkan daerah Kuningan, Jawa Barat, Nganjuk, Jawa Tengah, dan pesisir antara Tulungagung sampai Wonosari jadi gudang batuan itu.

'Untuk tanaman, biasanya saya carikan batu utuh, bukan berbentuk bongkahan yang diambil dari gunung,' kata pria yang bermain suiseki sejak 1990. Itu agar terkesan alami, bukan pahatan. Ukurannya bervariasi, mulai dari hanya sekepalan tangan, sampai sebongkah dengan lebar lebih dari 30 cm.

Andi tak mengerjakan sendiri, pembuatan lubang untuk memasukkan akar tanaman diserahkan pada Kusmandono. Musababnya, selain butuh bor khusus, juga perlu ketelitian. Setiap batu dibuat satu atau lebih lubang tanam, tergantung ukuran. Lubang itu tembus dari satu sisi ke sisi lain. Maksudnya, agar akar bisa keluar dan mengisap nutrisi yang ada di media dalam pot. 'Batu hanya sebagai pijakan saja,' kata Andi.

Jika batu yang digunakan besar-akar sansevieria tidak tembus ke sisi lubang bawah-harus diisikan media tanam. Dengan begitu akar lama kelamaan tumbuh memanjang dan mampu mencapai media dalam pot. Oleh karena itu media dalam potlah yang menentukan tumbuh subur tidaknya tanaman, bukan batu.

Media yang biasa digunakan Andi adalah campuran arang sekam dan pasir malang. 'Sebelum akar menjangkau media, tanaman tetap disiram dengan menyiramkan air perlahan-lahan ke dalam lubang,' imbuh ayah satu anak itu. Itu rupanya yang membuat sansevieria dalam batu milik Andi tetap bongsor.
Kerdil

Nun di Malang, Jawa Timur, Agus Gembong Kartiko-hobiis sansevieria di Malang- melakukan hal serupa. Hanya saja jenis batu dan cara tanamnya berbeda. Pria yang gemar mengenakan kaos putih

dan celana hitam itu memilih batuan vulkanik asal Blitar, Jawa Timur. Tekstur batuan ini remah, sehingga perlu hati-hati saat melubanginya. Namun, justru karena remah itulah ia mampu menyerap air dan menyimpannya untuk keperluan tanaman. Makanya, Gembong tidak meletakkan batu itu di atas media seperti yang dilakukan Andi.

Lubang tidak ditembuskan hingga bagian bawah, tapi cukup sedalam 5 cm- tergantung ukuran batu dan rimpang. Paling hanya dibuat lubang kecil di bagian bawah sebagai jalan keluarnya air yang berlebihan. Media yang tersedia hanya terbatas pada yang diisikan ke lubang tanam. Konsekuensinya, tanaman tumbuh lambat. 'Tapi justru itulah yang diinginkan,' tutur Gembong.

Menurut pria kelahiran Malang 49 tahun lalu itu, sansevieria yang tetap kerdil justru unik. Buktinya setiap bulan tidak kurang dari 50 pot habis terjual. Harganya pun jelas lebih tinggi, karena tanaman jadi lebih berkarakter. Andi menjual S. trifasciata hahnii dalam batu Rp100.000. Artinya 5 kali lipat dibandingkan yang ditanam dalam pot. Sansevieria terpasung dalam batu bukan kutukan, tapi sentuhan seni untuk tingkatkan pamor lidah mertua. (Nesia Artdiyasa)

Dari : trubus-online.co.id

Lidah Jin, Ehgen Bergi, Foscalina

Lebih Indah dan Lebih Mahal

Ketiga jenis sansevieria ini mempunyai kekuatan lebih di warna dan karakter yang membuatnya bernilai mahal. Mau tahu kelebihannya?

Lidah jin mempunyai bentuk batang kuat dan meruncing dengan warna hijau kuat. Ehgen bergi punya bentuk melengkung dan memiliki kanal lebar dengan paduan warna hijau dan coklat. Foscalina punya karakter lebih lembut dengan batang lebar dan memadukan grafis warna coklat dan hijau.
Dilihat dari jenis dan kelas sansevieria memang beragam, tapi jangan melihat kelas sebagai satu kualitas. Namun lebih pada apreasiasi masyarakat untuk mendapatkan dengan harga lebih mahal. Sebab selain dari kelangkaan harga jual sansevieria, juga dilihat dari karakter tanaman.
Saat kita melihat jenis trifasciata, tentu akan berbeda dengan jenis cylindrica. Karakter cylidrica jelas lebih kokoh dibandingkan dengan trifasciata yang berdaun lebar. Di situ, harga pasar ternyata mengarah pada karakter tanaman, membuat batang keras mempunyai harga lebih mahal.
Daun Kuat Lidah Jin
Kondisi ini membuat jenis lidah jin atau sansevieria aethiopica punya harga lebih mahal. Karakter yang kuat dan kekar, membuatnya masuk dalam jajaran tingkat atas tanaman yang dikenal sebagai lidah mertua ini. Di pasaran untuk jumlah daun 5 buah, penjual akan melepas setidaknya Rp 1,2 juta.
Memang nilainya fantastis untuk sebuah sansevieria yang dulunya dikenal sebagai tanaman pagar. Lidah jin sendiri merupakan salah satu sebutan sansevieria di negara tetangga, Malaysia. Sedangkan di Indonesia disebut dengan lidah mertua. Entah karena lidah para mertua di Indonesia terkenal tajam, tapi yang jelas jenis ini banyak menghuni lahan kolektor tanaman hias.
Bentuk daunnya disebut batang, mempunyai warna hijau dengan bintik hijau tua yang merata di semua bagian daun. Ujungnya runcing yang juga jadi ciri khas jenis sansevieria. Daun yang imiliki termasuk dalam jenis panjang, karena meski mempunyai kanal, tapi arah geraknya lurus mendatar, tak melengkung.
Karakter lurus ini, membuat lidah jin membutuhkan pot lebih besar atau lokasi yang lebih luas, karena ujung runcingnya bisa rusak bila diletakkan berdempetan. Celakanya, ujung yang rusak sudah tak akan kembali. Jadi sayang, bila ujung daun cacat hanya karena kesalahan lokasi.
Untuk proses pertumbuhan juga jadi nilai lebih, karena proses perkembangan lidah jin termasuk lama, sehingga proses perbanyakan juga membutuhkan wkatu lebih, akhirnya jadi jarang di pasaran. Di situ jelas, kalau harga akan lebih mahal.
Saat berencana untuk memiliki jenis ini yang harus diperhatikan pertama kali adalah kesehatan tanaman yang ditandai dengan kondisi daun/batang yang bersih mengkilat dan gemuk. Gemuk disini akan terlihat bahwa kerutan yang muncul tak kusam serta mampu mengeluarkan warna dengan cerah.
Sebaiknya memilih yang sudah mempunyai daun lebih dari 3 untuk menandai kalau daun tumbuh memutar/rouset. Jangan lupa, untuk mengingatkan siapa saja untuk tak mendekati daun yang hendak keluar, karena sangat rentan untuk rusak bila terkena sentuhan.
Lengkungan Daun Ehgen Bergi
Jenis satu ini memang cukup banyak dilihat saat pameran atau bursa, tapi paduan warna coklat dan hijau di tepi daun membuatnya berbeda. Jadi, harga jual yang ditawarkan setidaknya Rp 750 ribu untuk satu pot dengan jumlah daun sekitar 8 lembar. Angka yang mahal bila dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya, tapi tetap memiliki keistimewaan sendiri.
“Jenis ini berdaun panjang, tapi melengkung ke bawah,” tandas Penghobi Sansevieria di Sidoarjo Jawa Timur (Jatim), Daeng Yene. Istimewanya arah gerakan daun tak memutar, tapi mendatar, sehingga dari depan daun akan mempunyai muka yang datar dengan daun yang saling bertumpuk. Berbeda dengan tanaman hias lainnya yang bergerak memutar membentuk struktur rouset.
Itu masuk akal bila stau potnya sudah mengocek kantong mahal, karena dari bentuk tanaman sudah mempunyai kelebihan. Warnanya terjadi metamorfosis, dimana saat keluar dari batang warna hijau muda dan makin tua mendekati ujung. Warna tetap jadi satu hal yang sensitif di dunia tanaman hias, sehingga perubahan sedikit apapun akan meningkatkan harga jual dan tentunya popularitas.
Dari list/tepi daun yang muncul juga masih mengandalkan warna, karena dari hijaunya daun akan diikuti dengan gradasi warna coklat. Warna coklat muncul hampir sama dengan warna di bagian daun yang rusak, termasuk struktur bergerigi dan kasar. Tapi jangan khawatir, karena kondisi ini memang normal, bahkan jadi satu kelebihan.
Karakter daun yang bergelombang dan mempunyai kanal besar, membuat jenis ini juga lebih unggul dari yang lain. Cara memilih yang tepat adalah mencari bentuk yang pipih, dimana gerakan daun mengarah ke samping seluruhnya, bukan ke depan dan ke belakang. Biasanya terlihat saat daun sudah berjumlah antara 3-4 lembar. Ini untuk menandakan kemurnian jenis ehgen bergi yang mempunyai gerakan daun tumbuh dalam satu garis lurus.
Foscalina yang Eksotik
Jenis ini memang dari kelas genus kirkii yang mempunyai warna coklat, berdaun lebar, berkanal, dan tepi daun bergelombang. Daun tumbuh memutar dengan bagian tengah yang mempunyai lubang sebagai tempat keluarnya daun baru.
Warna yang muncul terkesan eksotis, karena cenderung gelap, meski hanya memadukan antara warna coklat dan motif bergaris coklat tua. Karakter daun yang muncul tak lagi panjang atau lurus, tapi lebih pipih, melengkung, dan pendek. Ukurannya kecil, dimana untuk 5 daun diametar tak lebih dari 30 cm dan dijual dengan harga Rp 400 ribu.
Harga jenis ini memang lebih bersahabat, karena proses pertumbuhan lebih cepat dari dua jenis di atas, sehingga proses perbanyakan jadi lebih cepat. Namun kesulitannya adalah menghasilkan satu prduk berkualitas yang punya kesehatan dan tentunya bentuk yang sempurna.
Memilih jenis ini tak terlalu sulit, tinggal memperhatikan struktur daun. Pada tanaman yang sehat, daun akan halus dan mengkilat. Jangan lupa juga memperhatikan warna yang muncul, karena warna cerah tentu menandakan tanaman tumbuh normal. Terakhir, tentu melihat dari atas untuk menandai arah gerak daun apakah memutar/rouset atau tidak. [wo2k]

Darp : tabloidgallery.wordpress.com

Lidah Mertua, Daun Pendek Lebih Mahal

Lidah mertua memang dikenal sebagai tanaman anti polutan, yang bisa menyerap polusi udara dan tanah. Namun, tanaman ini pun tetap cantik dijadikan eksterior rumah.


Setelah Aglaonema dan Anthurium sempat menjadi buah bibir di kalangan pecinta tanaman, kini giliran Sansevieria (Sansevieria Sp.) atau yang lebih dikenal dengan nama lidah mertua (mother-in-law's tongue) yang sedang digemari banyak orang.Sebenarnya, sudah sejak lama tanaman ini diincar orang banyak. Akan tetapi, pesona Aglaonema dan Anthurium sempat membuat lidah mertua terlupakan. Meski demikian, tanaman ini sering dipamerkan di berbagai acara eksebisi tanaman hias dan dijual banyak nursery.
Konon, dilihat berdasarkan bentuk daunnya yang memanjang ke atas dan berujung tajam inilah tanaman unik ini dinamai lidah mertua. Seperti S. laurentii yang daunnya tumbuh tinggi dan berujung tajam. Namun, ada juga Sansevieria berdaun pendek yang dinamai kuku bima.
Kuku bima berharga lebih mahal dibanding Sansevieria yang daunnya memanjang ke atas, karena masa tumbuhnya yang lamban. Harganya pun bisa mencapai Rp 250 ribu - Rp 300 ribu per pot. Bahkan, sampai ada yang dihargai per daun!
"Untuk Sansivieria yang daunnya memanjang ke atas, tumbuhnya lebih cepat, jadi harganya pun tak semahal yang berdaun pendek," ujar Romaida Magdalena Sirait, Manager Produksi IndoFlowers Nursery.

ANTI POLUTAN
Lidah mertua pun dikenal sebagai tanaman anti polutan. Lihat saja, banyak pabrik-pabrik tak lupa menanam lidah mertua di sekitar halamannya. Lidah mertua pun tetap indah dipandang saat ditanam di halaman rumah sebagai eksterior rumah. Apalagi, kata Roma, tanaman mudah perawatannya.
"Tidak perlu pupuk yang rumit, pakai kompos pun bisa. Jika pakai pupuk, beri yang slow release setiap 3 bulan sekali. Di musim hujan, sirami 2 hari sekali saja. Dan sehari sekali di musim panas."
Kendati demikian, waspadai penyakit yang bisa membuat daun lidah mertua menjadi basah dan membusuk. Namun, meski salah satu daunnya terkena penyakit busuk, tidak akan memengaruhi daun lain atau tunas baru yang tumbuh.
Penyakit yang menyerang daun ini, lanjut Roma, hanya menghabiskan daun yang sudah busuk saja. Jadi, agar penampilannya tetap bagus, cukup buang daun yang busuk dan beri bakterisida. Lalu, daun atau tunas baru akan muncul lagi. Untuk perbanyakan, imbuh Roma, bisa dilakukan melalui dua cara, yaitu anakan atau menyemai bunga.
Uniknya, meski tampaknya hanya tumbuh daun saja, lidah mertua pun ternyata memiliki bunga. Jika sudah berbunga, menurut Roma, lidah mertua akan memiliki nilai jual tersendiri karena dianggap sebagai tanaman "senior" atau sudah lama dan memasuki masa vegetatif (masa pertumbuhan).


PUNYA BANYAK NAMA
1. Selain dikenal sebagai lidah mertua, tanaman ini pun kerap disebut tanaman ular sontak.
2. Di setiap negara, lidah mertua memiliki banyak sebutan. Ada yang menamainya century plan, pak lan, atau african devil's.
3. Konon, lidah mertua memiliki khasiat dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti borok, bisul atau influenza.
4. Meski lidah mertua dikenal sebagai tanaman penyerap polusi, taman lain pun ada yang memiliki fungsi sama, yaitu Bromelia tetapi dengan kadar yang berbeda.
Nove
BERBAGAI JENIS SANSEVIERIA
1. Sansevieria Sp. (Cincau), bentuk daunnya seperti daun cincau. Daunnya keras, tumbuh banyak, tetapi tak bisa tumbuh membesar. Paling tinggi hanya mencapai 1,5 meter.
2. S. laurentii, jenis generasi pertama yang banyak ditanam. Mudah tumbuh tinggi dengan populasi yang cukup banyak.
3. S. cylindrical, tinggi daunnya bisa mencapai 2 meter. Bentuknya seperti jari tangan dan tumbuh banyak, minimal 3 daun dan maksimal 10 daun. Daun dan batangnya berbentuk semakin melebar.
4. S. kirkii, tepi daunnya bergelombang, tidak rata, bertekstur, dan warna daunnya cokelat. Harganya masih mahal karena lamban tumbuhnya.
5. Kuku bima, bentuk daunnya kecil-kecil seperti kuku bima. Termasuk tanaman yang tumbuh lamban dan ukurannya tak bisa lebih besar lagi. Uniknya, garis tepi daunnya berwarna merah. Harganya masih tergolong mahal dan populasinya sedikit.
6. Tombak, daunnya tinggi seperti tombak dengan warna hijau muda.
7. Honey sticker, daunnya keriting di bagian tengah dengan semburat kuning, dan tepi daun berwarna hijau.
8. Superball, tepi daun berwarna kuning dan tengah daunnya bermotif loreng.
9. Tiger, sesuai namanya warna daunnya memiliki bercak seperti kulit macan.
Noverita K. Waldan

Dari : www.tabloidnova.com .

Antisipasi Hama dan Penyakit Sansevieria

Pada dasarnya tidak terlalu banyak hama dan penyakit yang menyerang sansevieria. Namun demikian beberapa hama dan patogen penyebab penyakit sering mengganggu pertumbuhan tanaman ini. Hama pada sansevieria umumnya dari jenis serangga yang merusak tanaman. Sedangkan penyakit yang menyerang adalah jamur dan bakteri.
Hama

Siput

Siput yang telanjang atau yang berumah akan menyerang bagian daun, bahkan akar tanaman. Gejalanya mudah dikenali, karena tampak adanya bekas gigitan pada daun dan kotoran yang berserakan di sekitar tanaman. Siput aktif menyerang sansevieria pada malam hari. “Pada umumnya, pemberantasan hama ini bisa dilakukan secara manual, yakni dengan cara mengambil dan membuang siput yang umumnya berada di bagian bawah daun. Akan tetapi, bila serangannya cukup hebat, dapat digunakan melusida Metaphar atau Moluskil dengan dosis sesuai anjuran,” ujar Syaichul.

Thrips

Selain siput, hama jenis thrips juga sering menyebabkan kerusakan yang parah. Hama jenis ini menghisap cairan tanaman, sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. Di Indoensia, thrips yang menyerang biasanya dari jenis Herciotrips Feronalis. Hama ini biasanya akan menyerang pada musim kemarau. Thrips dapat diberantas dengan Kelthane, Tracer, atau Supracide dengan dosis sesuai anjuran.



Penyakit

Penyakit yang menyerang sansevieria umumnya merupakan gangguan yang diakibatkan oleh adanya patogen atau jasad renik yang tidak terlihat oleh mata biasa.
Busuk lunak (becterial stem rot)

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Erwinia Carotovora yang menyerang daun atau akar tanaman, terutama menginfeksi melalui luka yang menganga. Daun atau akar yang terserang tampak berwarna kecoklat-coklatan dan terasa lunak bila dipegang, berlendir, serta berbau tidak enak, dan lama kelamaan akan berubah seperti bubur.

Penyakit ini muncul apabila kondisi tanaman lembab akibat hujan yang terus menerus dan kurang cahaya. Patogen ini cepat menyebar melalui perantara air, serangga, tangan, alat pertanian, ataupun pakaian pekerja.

Cara mengatasi serangan patogen ini adalah dengan memangkas bagian yang terkena serangan dan mengolesinya dengan Na-hipoklorit (Clorox), serta membakar bagian yang terkena serangan. Sementara, untuk mencegah serangan bagian lainnya digunakan bakterisida Agrept sesuai dosis anjuran.
Busuk akar

Busuk akar disebabkan oleh jamur Aspergillus niger. Jamur ini muncul apabila kondisi media tumbuh terlalu basah. Apabila jamur ini telah menyerang, satu-satunya cara agar serangan tidak meluas adalah sebagai berikut :
Angkat tanaman dan potong akar yang busuk. Akan terlihat kumpulan spora jamur yang berwarna coklat kehitam-hitaman.
Cuci perakaran sampai bersih dan rendam sebentar dalam larutan fungisida (misalnya : Aliette dengan dosis sesuai anjuran dan labelnya).
Tanaman dalam media baru.
Bakar media yang lama, karena telah tercemar spora jamur.
Bercak daun

Gejala serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur Fusarium Moniliforme ini khas sekali, yaitu munculnya warna ungu kemerah-merahan pada daun yang terserang. Selanjutnya, bercak kemerah-merahan akan melebar dan membentuk luka. Pemupukan nitrogen yang terlalu tinggi akan memacu serangan fusarium ini.

Untuk mencegah meluasnya serangan, lakukan langkah-langkah berikut :

- Mula-mula, keluarkan tanaman dari pot dan buang bagian yang sakit.

- Selanjutnya, tanam dalam media baru dan semprot dengan fungisida (misalnya : Benlate, Dithane, atau Antracol dengan dosis sesuai label).

Cara pengendalian Hama & Penyakit Sansevieria

“Terdapat empatjenis pengendalian yang sering saya gunakan sebagai tindakan pencegahan. Tindakan tersebut antara lain pengendalian mekanis, sanitasi, kultur teknis, dan pengendalian kimiawi,” kata Syaichul.
Pengendalian mekanis

Pengendalian secara mekanis dilakukan apabila serangan hama masih dalam jumlah terbatas. Misalnya, siput dapat diambil dengan tangan dan dibunuh. Demikian juga dengan kutu yang terdapat pada bagian daun dapat didorong dengan kuku dan dibunuh. Semut-semut yang tidak terlalu banyak pun dapat diambil secara manual dengan tangan.
Sanitasi

Menjaga kebersihan lingkungan merupakan salah satu cara untuk menangkal serangan hama dan penyakit. Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman merupakan tempat persembunyian yang disukai hama dan patogen penyebab penyakit. Dengan membersihkan kebun secara rutin, hama tidak mempunyai kesempatan untuk bersembunyi. Selain itu, kebun yang bersih akan sedap dipandang dan merupakan lingkungan kerja yang baik.
Kultur teknis

Pemeliharaan tanaman yang baik dapat meningkatkan kesehatan tanaman. Penyiraman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta penggantian media tumbuh dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Secara tidak langsung, kultur teknis yang baik dapat memantau keberadaan hama dan penyakit secara dini.
Pengendalian Kimiawi

Apabila serangan hama dan penyakit telah berada di ambang batas atau mencapai 10%, pengendalian secara kimiawi merupakan pilihan. Akan tetapi, pemakaian bahan kimia secara berlebihan akan membawa dampak negatif bagi lingkungan. Untuk itulah penggunaanya harus terkontrol. [adi]

Dari : tabloidgallery.wordpress.com

Paimo : Paguyuban Ilat Morotuwo

Nama Paimo, mungkin masih asing di telinga kita. Sekalipun Anda penggemar berat sansevieria Tanah Air. Mungkin istilah Jogjakarta Sansevieria Community (JSC) malah lebih ngetren di telinga, meski itu baru digunakan untuk komunitas tersebut.

“Paimo didirikan sekitar 4 tahun yang lalu, berawal dari teman-teman pecinta sansevieria di Jogjakarta. Intensitas pertemuan yang sering, akhirnya memunculkan gagasan untuk membuat paguyuban yang mewadahi mereka pecinta sansevieria,” kata Ketua Paimo – Drs Seta Gunawan.

Meski baru 4 tahun, paguyuban yang kepanjangannya Paguyuban Ilat Morotuwo (perkumpulan lidah mertua – nama lain dari sansevieria, red) ini terbilang tertua di Indonesia. Sebab, di beberapa daerah, meski sudah banyak bermunculan pecinta sansevieria, tapi belum ada wadah untuk menaunginya.

Banyak kisah menarik yang dialami oleh anggota penggagas Paimo pertama. Sebagai tanaman yang biasa ditanam di pagar, orang sering memandang sebelah mata sansevieria. Tak jarang, pecinta tanaman ini sering jadi olok-olokan, karena melakukan kegiatan yang sepintas tak bermanfaat.

“Dari cerita beberapa rekan dan pengalaman saya, hal itu sering kita alami. Awalnya risih, tapi lama-lama jadi terbiasa. Setidaknya hingga masyarakat sadar akan kecantikan tanaman ini dan akhirnya banyak dicari orang serta sering dikonteskan,” ujar Seta.

Lucunya, tak jarang mereka yang awalnya mengolok-olok, kini jadi pelanggan Seta dan anggota Paimo. Bahkan tak jarang, mereka akhirnya bergabung dengan paguyuban ini, bahkan meninggalkan kecintaan pada tanaman tertentu sebelum mencintai sansevieria. Meski awalnya kegiatan Paimo hanya sebatas kumpul-kumpul antar rekan pecinta sansevieria tertentu, dalam perjalannya perkumpulan ini mulai membuka diri, terutama bagi mereka yang ingin tahu segala sesuatu tentang tanaman ‘pedang-pedangan’ ini.

“Pada dasarnya paguyuban kita tak pernah aktif mencari anggota. Kita hanya menyediakan pusat informasi bagi masyarakat yang ingin tahu sansevieria. Bagaimana cara budidayanya, bagaimana memperoleh, dan membedakan tanaman ini dengan yang lain,” ungkap Seta.

Selain memberi kesempatan open house bagi pecinta sansevieria di Jogjakarta, paguyuban ini tak ragu untuk terjun menjemput bola. Kegiatan seminar pelatihan dan kontes pun sempat dilator-belakangi oleh paguyuban unik ini. Pola Paimo dalam seminar adalah berbagi ilmu dengan masyarakat. Selain itu, kegiatan ini umumnya juga bertujuan untuk mensosialisasikan sansevieria ke masyarakat awam, sehingga pencintanya pun diharapkan bertambah.

Siap Go Nasional dan jadi Pelopor

Ada cerita unik di balik nama Paimo yang disepakati oleh beberapa pendirinya. Sebagai masyarakat Jawa, nama itu mudah dikenal, tapi begitu teman dari luar daerah ingin bergabung dan membuka cabang di tempatnya (terlebih di luar pulau yang tak kenal bahasa Jawa), istilah Paimo sering jadi kendala.

Sebagai paguyuban yang terlebih dulu hadir, Paimo berdiri jadi pelopor gerakan pecinta sansevieria di beberapa daerah di Indonesia. Bahkan di pulau Jawa, keberadaan Paimo dapat apresiasi besar dari masyarakat, dengan selalu mengikut-sertakan mereka dalam kegiatan yang berhubungan dengan sansevieria. Namun rupanya nama Paimo jadi kendala mereka untuk go nasional.

“Pada dasarnya, nama bukan masalah, karena kita masih menggunakan nama Paimo sebagai identitas paguyuban. Hanya nama ini akan digeser di belakang nama Jogjakarta Sansevieria Community,” ujar Seta. “Nama sansevieria community bisa dipakai sebagai perwakilan cabang di daerah lain. Misalnya, bila di Surabaya jadi Surabaya Sansevieria Community, di Jakarta jadi Jakarta Sansevieria Community, dan sebagainya,” lanjutnya.

Dengan itu, diharapkan pecinta sansevieria dari daerah lain bisa bergabung dengan Paimo, terutama bagi mereka yang ingin memajukan tanaman ini di Indonesia. [hyo]

Dari : tabloidgallery.wordpress.com .

Sansevieria Di Puncak Takhta

Dua puluh kotak styrofoam 40 cm x 30 cm x 6 cm berjajar dalam greenhouse seukuran 2 kali meja pingpong. Di atas kotak terdapat potongan daun patens, downsii, kirkii, dan pinguicula yang dialasi sekam. Begitulah cara Andy Solviano Fajar memperbanyak sansevieria untuk memenuhi tingginya permintaan. Dalam 3 bulan terakhir, ia memasarkan 200 pot terdiri atas 4—5 daun. Dari perniagaan itulah, pekebun di Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, itu meraup omzet Rp25-juta per bulan.

Dua ratus pot yang terjual terdiri atas 50 pot patens, 75 pot downsii, 25 pot pinguicula, dan 50 pot kirkii. Bibit yang dijual berumur 5—6 bulan, seukuran kunci sepeda motor. ‘Memang masih kecil, sebab baru dipisah sudah langsung dipesan,’ katanya. Konsumennya pedagang di seputaran Solo, Yogyakarta, dan Blitar. Omzet Andy lebih besar jika memperhitungkan penjualan 20 pot ehrenbergii, pinguicula, dan patens dewasa seharga Rp750-ribu—Rp2,5-juta per pot. Pundi-pundi ayah 1 anak itu menebal pada awal tahun karena permintaan bibit melonjak 100% ketimbang penghujung 2007.

Andi memperbanyak sansevieria sejak 1,5 tahun silam. Itu dimulai dari keberaniannya mencacah daun kirkii berukuran 10 cm x 20 cm menjadi 5 cm x 5 cm. Perbanyakan itu sukses. Oleh karena itu ia menerapkannya pada spesies lain seperti patens, downsii, dan rorida yang berdaun tebal. Total jenderal diperoleh 3.500 anakan. Saat wartawan Trubus Nesia Artdiyasa, mampir ke kebunnya pada Februari 2008, bibit yang tersisa hanya pinguicula 75 pot, rorida 35, dan kirkii 40.

Untuk memenuhi tingginya permintaan, Andy menambah indukan baru. Ia membeli malawi 5 daun seharga Rp2-juta dan mencincangnya menjadi 15 potong. Dua desertii masing-masing 2 daun seharga Rp750-ribu dipecah menjadi 15 potong. Jebolan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada itu juga memborong 6 pot patens terdiri atas 7 daun. Tanaman seharga Rp250-ribu—Rp750-ribu itu lalu dicacah menjadi 100. ‘Itu untuk persiapan penjualan 5 bulan ke depan,’ kata pemilik nurseri Sekar Jagad itu.
Rezeki nomplok

Berkah sansevieria pun dirasakan Franky Tjokrosaputro, presiden direktur PT Bumi Teknokultura Unggul, di Jakarta. Selama 11 hari pameran di Trubus Agro Expo 2008 di Parkir Timur Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta Pusat, Franky sukses menjual 200 pot Sansevieria cylindrica ‘patula’ dan S. cylindrica ‘bintang.’ Dengan harga tanaman berukuran 10 cm Rp50.000, ia memperoleh pendapatan minimal Rp10-juta. Itu belum termasuk penjualan masoniana congo dan silver.

Menurut Franky nominal itu tak terduga sebelumnya. Pasalnya, cylindrica yang dikebunkan sejak 2005 untuk pasar ekspor. ‘Saya menyiapkan untuk ekspor pada pertengahan 2008. Ternyata sejak awal tahun pasar lokal bisa menyerap. Itu benar-benar rezeki nomplok,’ kata kelahiran Solo 31 tahun silam itu.

Di Medan, Sumatera Utara, Poppy Anggraeni, pun ketiban rezeki sansevieria. Pemilik nurseri Ivanna itu meraup omzet Rp75-juta selama berpameran di Jakarta pada awal Maret 2008. Itu penjualan 300 pot Sansevieria fischerii, ehrenbergii, gold flame, dan pinguicula. Bedanya, 50% penjualan Poppy berasal dari hasil perbanyakan di halaman rumah. Sisanya didatangkan langsung dari negeri Siam. ‘Yang ukuran 20 cm ke bawah hasil anakan sendiri. Yang besar diimpor,’ kata pengusaha rumah makan itu.
Kian berkibar

Bukan tanpa sebab 3 pekebun itu mendulang rupiah dari si tanaman ular. ‘Tren sansevieria kian menggila,’ kata Purbo Djojokusumo, pemain tanaman hias yang malang melintang selama 15 tahun itu. Mantan dokter di rumah sakit di Jakarta itu merujuk pada peningkatan permintaan lidah mertua yang melonjak 4 kali lipat sejak sebulan terakhir. Sebelumnya Purbo hanya sanggup menjual 10—20 pot per bulan. Pada Februari 2008 ia kelimpungan melayani permintaan 200 pot kirkii brown.

Harga sansevieria pun terus meroket. Sebut saja kirkii brown yang 2—3 bulan lalu hanya Rp100-ribu per daun, kini menjadi Rp250-ribu. Kirkii silver blue berukuran 20 cm yang semula Rp1-juta per daun naik 10 kali lipat Rp10-juta. Pada Januari 2008, bibit patens 4—5 daun ukuran 5 cm dibanderol Rp100-ribu per tanaman di tingkat pekebun. Spesies itu kini beredar dengan kisaran harga Rp175-ribu—Rp220-ribu di tingkat pekebun dan importir. ‘Itu karena permintaan meningkat, tapi stok lambat bertambah,’ kata Edi Sebayang, kolektor di Tangerang.

Menurut Drs Seta Gunawan, ketua paguyuban sansevieria di Yogyakarta, 3 pemicu tren sansevieria sejak 2 bulan terakhir adalah publikasi media, permintaan tinggi, dan pertambahan pemain. Willy Purnawanto SE dari Masyarakat Sansevieria Indonesia (MSI) di Yogyakarta menambahkan alasan lain. ‘Momentum tren yang sangat tepat. Saat tren di Indonesia, komunitas serupa di mancanegara sedang tumbuh,’ katanya. Menurut Willy, tren bersamaan itu membuat komunikasi antarpemain tak terbatas di wilayah domestik. Namun, mendunia mulai Thailand dan Filipina hingga ke Eropa dan Amerika Serikat.
Tren mancanegara

Pendapat Willy itu disepakati Ruangwit di Thailand. Menurutnya tren sansevieria di negeri Gajah Putih itu baru berlangsung setahun. ‘Tren dipicu terbitnya buku sansevieria karya Pramote Rojruangsang tahun lalu,’ kata Ruangwit kepada 2 wartawan Trubus Andretha Helmina dan Nesia Artdiyasa. Ia berburu lidah mertua ke Eropa, Amerika, dan Filipina melalui dunia maya. Hasilnya vernwood, ehrenbergii, koko, kirkii, dan erythraeae.

Menurut Bunlue Lodwan, presiden Thailand Sansevieria Club (TSC), ‘Sejak 6 bulan terakhir permintaan menggila,’ katanya. Bunlue yang sebelumnya meneruskan usaha sang ayah yang mengebunkan adenium banting setir ke sansevieria. Menurutnya lidah mertua itu diburu distributor dan kolektor dari Thailand, Jepang, dan Indonesia. Selama 6 bulan terakhir pria berusia 25 tahun itu meraup omzet hingga 300.000 bath setara Rp75-juta—Rp90-juta.

Permintaan bertubi-tubi itu menyebabkan harga di Thailand pada Maret 2008 naik 50—100% ketimbang Januari 2008. Pemasok Bunlue dari Filipina dan Amerika pun menaikkan harga. Di negeri Arroyo dan Bush itu harga naik hingga 20—30% dibanding 2—3 bulan sebelumnya.

Di Thailand saat ini tercatat 120 nurseri sansevieria. ‘Sebelumnya mereka bermain adenium, aglaonema, puring, atau keladi. Kini mereka serius memperbanyak sansevieria,’ kata Pramote Rojruangsang.

Sebuah komunitas di dunia maya pun menggambarkan tren sansevieria. Sebanyak 600 anggota dari berbagai negara bergabung. Sebut saja Perancis, Jerman, Jepang, Vietnam, India, dan Indonesia. Pada pertengahan 2007 sempat beredar kabar komunitas itu mati suri. Namun, pada penghujung 2007 dan awal 2008, interaksi antarhobiis mancanegara itu bergairah kembali. Dari kontak personal itu laju ekspor-impor antarbenua kerap berlangsung dengan volume beragam.
Pemain baru

Di tanahair juga bermunculan pemain baru. Di Yogyakarta, ada M Burhan, pemilik nurseri Bullion 99. Sejak 4 bulan silam pemilik perusahaan valas itu berburu lidah mertua di seputaran Kota Gudeg. Namun, sejak awal tahun ia mendatangkan 200 pot horwood, robusta, hallii, dan patens dari Filipina. Pada Februari setengah stok yang dimiliknya ludes diburu hobiis. Di Solo ada Boy Olifu Gea; di Wonosobo, Belly Rudianto; dan di Blora, Dedy Dwi P.

Di luar Jawa Tengah dan Yogyakarta pun banyak pemain tanaman hias yang melirik sansevieria. Contohnya Handry Chuhairy di Tangerang. Pemilik nurseri Hans Garden itu semula terkenal dengan adenium, pachypodium, dan aglaonemanya. Belakangan Trubus kerap memergoki manajer pasar swalayan itu berburu sansevieria dan berkompetisi di arena kontes. Di Palu, Sulawesi Tengah ada Yusmangun—kolektor aglaonema dan adenium—yang kepincut kecantikan lidah naga. Menurut Poppy, di Gorontalo, kini terdapat 3—4 nurseri yang mulai menjajakan sansevieria.

Gairah para pemain baru itu semakin terwadahi karena ajang kontes kian sering digelar. ‘Dulu kontes sering digelar, tapi peserta minim. Kini sebulan bisa 2 kali, dengan peserta membeludak,’ kata Sudjianto, juri kontes sansevieria asal Wonosobo, Jawa Tengah. Kontes yang digelar Trubus pada awal Maret 2008 tercatat 86 peserta; di Wonosobo, 110 peserta. Bandingkan dengan peserta kontes pada 2007 yang rata-rata hanya diikuti 30—50 peserta.
Risiko tinggi

Peluang di pasar sansevieria bukannya tanpa risiko. Mamay Komarsana, di Cipanas, Cianjur, hanya bisa mengelus dada saat kebun laurentii untuk ekspor ke Korea musnah diserang penyakit Erwinia sp pada 2003. ‘Modal Rp20-juta raib tak kembali. Saya kapok kebunkan lidah mertua berdaun tipis,’ kata mantan pegawai pabrik kabel itu.

Hamid Mahmud Baraja, eksportir di Malang, Jawa Timur, pun mengeluhkan omzet yang diraup dari pasar ekspor menurun drastis. Ia mencontohkan harga laurentii yang semula Rp20.000 merosot menjadi Rp10.000 per tanaman. Menurut Hamid, gempuran penyakit sulit diatasi, sehingga biaya produksi melambung. ‘Lebih besar pasak daripada tiang,’ ujarnya.

Di Puncak, Bogor, ada Samsudin, yang kebingungan melepas 1.000 superba. ‘Saya pikir jenis ini bakal diburu pascalaurentii, ternyata tak ada yang mau,’ kata pria berkacamata itu. Lantaran tak laku, superba itu dibiarkan tak terawat. Belakangan Samsudin memusnahkan 3.000 superba, hahnii, dan laurentii yang terserang bakteri.

Sejatinya, tak hanya lidah mertua berdaun tipis yang berisiko tinggi. Menurut Andy banyak pekebun di Solo yang mencacah daun kirkii, giant, dan rorida, gagal. Ketiganya termasuk lidah jin berdaun tebal. ‘Bagi yang belum berpengalaman, tingkat kematian tinggi. Bisa di atas 60%,’ katanya. Itulah sebabnya banyak pekebun yang Trubus sambangi takut mencacah daun si lidah naga.
Peluang ekspor

Namun, jika berbagai hambatan teratasi, pasar menanti pasokan sansevieria. Tak melulu pasar domestik yang terbuka, tapi juga ekspor. Franky Tjokrosaputro, mendapat permintaan 3—5 kontainer Sansevieria cylindrica ‘patula’ per bulan dari Belanda pada awal tahun ini. Satu kontainer 40 feet menampung 20.000—30.000 pot patula berukuran 40—50 cm. Permintaan dengan volume setara muncul dari 3—4 pembeli di Korea dan Jepang. ‘Dua negara yang disebut terakhir baru penjajakan,’ katanya.

Franky akan memenuhi permintaan itu pada Juni—Juli 2008. ‘Stok patula di kebun kita baru 100.000 tanaman. Kami masih menunggu panen plasma di Tangerang dan Kebumen,’ katanya. Franky bermitra dengan pekebun di Kebumen dan Tangerang. Kepada mereka, ia memberikan masing-masing 20.000 bibit dan 10.000 bibit. Targetnya 1-juta tanaman per tahun pada 2009—2010 dari lahan 5 ha dan para plasma.

Benarkah peluang ekspor itu realistis? Menurut Hamid peluang ekspor segala macam tanaman hias—termasuk sansevieria—terbentang luas. ‘Asal sanggup memasok rutin 3 kontainer per bulan, negara-negara di Eropa siap menampung,’ kata mantan pengusaha pasta gigi itu. Setelah mengirim sampel, Korea Selatan minta pasokan 3 kontainer Australia black sword . Kini ia baru mengebunkan jenis itu itu di lahan 1 ha.

Menurut Hamid, pekebun yang membidik pasar ekspor mesti siap menjual dengan harga partai. ‘Biasanya harga lebih rendah, tapi volume tinggi. Sistem kerjanya sudah skala komersial seperti di pabrik-pabrik,’ ujarnya.
Prediksi

Sampai kapan pasar sanggup menyerap sansevieria? Iwan Hendrayanta, ketua Perhimpunan Florikultura Indonesia, menyebutkan tren sansevieria bakal langgeng di tanahair. ‘Sansevieria sudah diterima masyarakat Indonesia,’ katanya. Menurut Iwan grafik tren sansevieria seperti gelombang transversal (naik dan turun, tapi sebetulnya ajek, red). Oleh karena itu sansevieria berpeluang sebagai tanaman sela. Saat tanaman hias lain booming, sansevieria seolah turun. Namun, begitu komoditas itu mulai turun, maka sansevieria berperan sebagai tanaman alternatif yang diburu.

Purbo menuturkan pada triwulan ketiga 2008, sansevieria bakal menjadi tanaman yang paling diburu di seluruh dunia. ‘Masa itu sansevieria seperti di puncak takhta. Harga bisa meroket 20 kali lipat karena pemintaan dan ketersediaan tak seimbang,’ katanya. Namun, ia memberi peringatan tren harga bisa terjun bebas pada triwulan ketiga 2009. Musababnya, pekebun di Thailand mulai getol memperbanyak sansevieria.

Pekebun Thailand sudah berhasil memperbanyak sansevieria dengan teknik cacah yang lebih unggul. ‘Tingkat keberhasilan mereka mencapai 100%. Pekebun di Indonesia paling 50%,’ ujar Purbo. Dipastikan, dalam 2 tahun hasil perbanyakan itu siap membanjiri pasar Indonesia.

Edi Sebayang memprediksi tren sansevieria bakal lebih panjang ketimbang adenium yang telah berlangsung 8 tahun. Itu karena perbanyakan dan pertumbuhan lidah jin lebih lambat, tapi berlimpah spesies dan varian. Lantaran itu, Edi mendatangkan 400 patens berumur 1 tahun dari Filipina. Hamparan patens itu kini bisa dilihat di halaman rumahnya.

Soeroso Soemopawiro juga sangat yakin, umur sansevieria bakal panjang karena merujuk ke Negeri Matahari. Menurutnya gembar-gembor sansevieria sebagai antipolutan membuat pemerintah Jepang menganjurkan warganya memelihara lidah naga di setiap rumah. Minat serupa bukan tak mungkin berlaku di tanahair.

Optimisme itulah yang kini dirasakan Andy, Franky, dan Poppy. Bagi mereka perbanyakan satu-satunya jalan meraup untung. ‘Thailand sanggup menjual tanaman dengan harga realistis, kenapa kita tak bisa,’ kata Andy. Bagi Franky harga ekspor yang tak sebaik lokal disiasati dengan peningkatan volume dan pemilihan jenis bandel. (Destika Cahyana/Peliput: Andretha, Argohartono, Dian AS, Imam, Kiki, Lastioro, Nesia, Rosy, dan Vina)

Dari : www.trubus-online.co.id

Berkah Dari Cylindrica

Sejak Mei 2003, hampir setiap bulan Aemona berburu indukan sansevieria ke Bali, Lampung, Yogyakarta, dan Bandung. Target utama adalah laurentii. Ketika itu laurentii merupakan satu-satunya spesies lidah mertua yang ia ketahui. Namun, di tengah perjalanan, ia kerap kepincut kecantikan lidah jin lainnya. 'Bentuknya unik dan cantik,' kata perempuan kelahiran Bandung itu. Ia pun langsung membeli tanaman yang belum diketahui namanya itu. Tak heran bila sebelum mencapai daerah tujuan, setengah mobil boksnya terisi lidah mertua.

Dari perburuan ke berbagai daerah, Aemona berhasil mengumpulkan 161.400 indukan. Itu terdiri dari 160.000 Sansevieria trifasciata 'laurentii', 400 S. cylindrica, 700 S. aubrytiana, dan 300 S. trifasciata 'bantels's sensation'. Sansevieria-sansevieria itu ditanam di 2 kebun di Cibadak, Sukabumi, dan Pondokaren, Tangerang, masing-masing seluas 5.000 m2.
Omzet

Dari hasil perbanyakan secara generatif-biji-diperoleh varian baru cylindrica berukuran lebih kecil daripada induk. 'Tingginya tak pernah lebih dari 30 cm,' ujar perempuan yang pobia ular itu. Bandingkan dengan cylindrica 'sky line' yang tingginya mencapai 150 cm. Kini total cylindrica 'patula' koleksinyai 20.000 tanaman. Sementara dari pemisahan anakan diperoleh 3.400 bantels's sensation, 3.000 aubrytiana, dan 4.000 sky line.

Lidah-lidah mertua itulah yang ia pasarkan. Awalnya pemasaran dilakukan pada ajang pameran Flora dan Fauna Lapangan Banteng 2006. Di sana Aemona berhasil menjual 200 sky line berdaun 3 helai, 200 bantels's sensation, 100 aubrytiana, dan 300 patula. Total omzet lebih dari Rp30-juta.

Sejak itu permintaan sansevieria mulai berdatangan. Kini volume penjualan di lapaknya di Pondokaren, Tangerang, rata-rata 90 sky line berdaun 3 helai, 60 bantels's sensation, 30 aubrytiana, dan 150 patula. Dengan harga masing-masing Rp20.000/ daun, Rp50.000/pot, Rp30.000/pot, dan Rp10.000/pot, omzetnya Rp10,8-juta/bulan.

Aemona tak tahu pasti biaya perawatan. Ia hanya menggunakan polybag serta campuran media tanah, pupuk kandang, dan sekam bakar masing-masing satu bagian. Bila ditaksir rata-rata Rp1.500/polybag, maka total biaya produksi untuk 330 sansevieria sebesar Rp495.000. Dengan begitu pehobi jalan-jalan ke luar negeri itu memperoleh laba bersih Rp10,3-juta per bulan. Itu belum termasuk keuntungan dari koleksi unik terbatas, 1-2 pot saja, seperti S. parva, S. fischeri alias kuku bima, dan S. cylindrica 'midnight star' yang nilai jualnya mencapai Rp1-juta/pot.
Kecewa

Keseriusan Aemona mengebunkan sansevieria justru berawal dari kekecewaan. Lima tahun silam datang seseorang yang menawarkan kerja sama bisnis mengebunkan laurentii. Ibu 3 anak itu langsung setuju lantaran penampilan tanaman cantik dan tak berulat. Ketika itu pamor lidah jin melonjak lantaran eksportir dari Korea berbondong-bondong mencari kerabat dracaena itu. Aemona menyediakan lahan dan sang mitra bertanggung jawab terhadap bibit. Namun, setelah menunggu 5 bulan sang rekanan tak pernah kembali. Padahal, Aemona sudah mengeluarkan jutaan rupiah untuk mengolah lahan 5.000 m2 di Cibadak, Sukabumi.

Jebolan Ilmu Komunikasi Universitas Prof Dr Mustopo itu akhirnya berbisnis sendiri. Di sela-sela kesibukannya sebagai ketua Lembaga Kursus Bahasa Asing, Perhotelan, dan Fotografi, Aemona rajin berburu sansevieria setiap bulan ke berbagai daerah, seperti Bali, Bandung, Blitar, Pasuruan, Yogyakarta, dan Lampung.

Panen perdana awal 2004. Ketika itu Aemona tak kesulitan dalam memasarkan sansevierianya. Maklum, lokasi kebun di pinggir jalan sehingga tampak dari luar. Sebanyak 5.000 laurentii diborong pengumpul seharga Rp7.000/tanaman berdaun 2-3 helai. Dari situ permintaan terus meningkat hingga rata-rata 30.000 tanaman/bulan.

Keberhasilan di Sukabumi mendorong Aemona membuka lahan baru di Tangerang dengan luasan sama. Lagi-lagi keberuntungan menghampirinya. Dari kebun di Tangerang, Aemona berhasil menjual rata-rata 20.000 laurentii/bulan. Sayang, berkah laurentii tak berlangsung lama. Serangan penyakit busuk basah Erwinia carotovora dan Fusarium moniliforme pada pertengahan 2005 menghancurkan kebun di Sukabumi.

Daun sansevieria terlihat lodoh seperti terkena siraman air panas. Dari 100.000 tanaman hanya 500 yang terselamatkan dan diboyong ke Tangerang. Namun, lidah jin yang terlihat sehat itu justru membawa malapetaka. Ia menulari sansevieria lain di kebun Tangerang. Walhasil, Aemona harus memusnahkan semua laurentii. Kerugian bernilai Rp60-juta pun tak terelakkan.

Meski terkena musibah bertubi-tubi, Aemona tak patah semangat. 'Untung masih ada cylindrica yang tahan terhadap penyakit,' kata perempuan berusia 59 tahun itu. Sansevieria yang pertama kali dipelihara sejak 15 tahun silam itu seakan menjadi dewa penyelamat. Sebanyak 200 pot cylindrica 'sky line' berdaun 2-4 helai ludes terjual di pameran Flora dan Fauna Lapangan Banteng pada 2006. Itu belum termasuk penjualan midnight star, baseball, kuku bima, dan parva yang jumlahnya masing-masing 10 pot. Itulah buah perjalanan Aemona 5 tahun silam. (Rosy Nur Apriyanti)

www.trubus-online.co.id